Mendapatkan Passive Income Dari Saham Dengan Dividend Investing


  • Share on Pinterest

Kali ini, saya akan membahas mengenai cara mendapatkan passive income dari saham dengan dividend investing.

Dividend Investing merupakan sebuah metode investasi yang bisa dibilang cukup membosankan menurut saya.

Pastikan kamu sudah tahu cara mendapatkan dividen saham sebelum lanjut membaca artikel ini.

Sebelum membahas mengenai apa itu dividend investing, kita bahas dulu apa itu dividen saham?

Apa Itu Dividen Saham?

Saat sebuah perusahaan publik menghasilkan laba, laba tersebut bisa digunakan untuk melakukan research and development, disimpan sebagai cadangan kas, atau dibagikan kepada investor.

Ketika laba dibagikan kepada investor, itulah yang disebut sebagai dividen.

Jadi bisa kita pahami bahwa dividen adalah sebagian laba yang dibagikan perusahaan kepada investor atau investor.

Dividen itu seperti bunga yang kita peroleh dari bank jika kita menyimpan uang di deposito. Kira-kira seperti itulah.

Bedanya, dividen berasal dari kegiatan usaha yang dilakukan perusahaan sehingga nilainya bisa naik atau turun tergantung pada kinerja serta kebijakan perusahaan.

Namun perlu di ingat, terdapat benefit dan risiko yang perlu dipahami saat memutuskan untuk melakukan dividend investing. Nanti saya bahas di akhir tulisan.

Passive Income Dari Saham Dengan Dividend Investing?

Dividend Investing bisa kita artikan sebagai sebuah metode investasi yang tujuan utamanya adalah untuk memperoleh dividen dari perusahaan.

Dividend investing memungkinkan kita untuk mendapatkan passive income dari saham. Ini sudah saya buktikan, pada tahun 2021, saya berhasil menghasilkan passive income dari dividen saham.

Silahkan baca tulisan saya tentang total passive income dari dividen saham selama tahun 2021.

Dividen bisa kita gunakan untuk dibelikan saham kembali untuk membantu pertumbuhan portofolio, digunakan untuk keperluan pribadi, atau mempersiapkan dana pensiun misalnya. 

Dengan dividend investing, kita bisa terus memperoleh sebagian keuntungan dari perusahaan tanpa perlu menjual sahamnya. 

Analogi sederhananya seperti membeli anak ayam dengan harga 10.000. Setelah kita rawat, ayam tersebut kita jual dengan harga 50.000. Keuntungan kita yaitu 40.000, ini merupakan capital gain.

Sedangkan, jika kita tidak menjual ayam nya, hanya menjual telur nya saja, maka telur ini bisa kita sebut sebagai dividen.

Meskipun harga jual telur lebih rendah dari harga jual ayam, namun kita bisa terus memperoleh keuntungan berulang selama si ayam menghasilkan telur. Keuntungan berulang ini dikenal sebagai Recurring Income.

Keuntungan dari menjual telur ini bisa kita belikan ayam lagi untuk menghasilkan telur yang lebih banyak dan seterusnya. 

Sehingga dalam jangka panjang akan memunculkan efek bunga berbunga atau biasa dikenal sebagai Compounding Interest.

Cara Menganalisa Saham Dividen Terbaik

Ada tiga indikator yang biasanya saya gunakan untuk menilai sebuah saham pada dividend investing, yaitu:

  • Earning Per Share (EPS)
  • Dividend Payout Ratio (DPR)
  • Dividend Yield 

Earning Per Share, merupakan laba bersih perusahaan yang sudah dibagi dengan jumlah lembar saham beredar.

Sebaiknya, cari perusahaan yang EPS nya konsisten bertumbuh, karena ini akan berpengaruh pada perhitungan dividen per lembar nantinya.

Dividend Payout Ratio merupakan persentase laba bersih yang akan dibagikan kepada investor.

Jika sebuah perusahaan mencetak laba 1 milyar, lalu 600 juta-nya dibagikan sebagai dividen, maka DPR nya adalah 60%. 

Jika pada tahun berikutnya laba perusahaan bertumbuh menjadi 1,3 milyar, meskipun DPR-nya tetap 60%, laba yang dibagikan kepada investor akan meningkat menjadi 780 juta. Ini mengapa pertumbuhan EPS cukup penting.

Terakhir yaitu Dividend Yield, merupakan rasio untuk mengukur tingkat keuntungan yang diberikan perusahaan kepada investor.

Cara menghitung dividend yield adalah cukup membagi dividen per lembar dengan harga saham.

Contohnya, jika sebuah perusahaan membagikan dividen per lembar sebesar 250 rupiah, ketika harga sahamnya di 3500. Maka dividend yieldnya adalah 7 persen. 

Setiap investor mempunyai dividend yield yang berbeda-beda, tergantung di harga berapa membeli sahamnya.

Perlu di ingat bahwa jika harga saham turun, maka dividend yield akan naik. Jika harga saham naik maka dividend yield akan turun.

Kenapa Memilih Dividend Investing?

Saya beranggapan bahwa ketika harga saham turun, maka itu adalah diskon yang diberikan oleh pasar.

Artinya saya punya kesempatan untuk mendapatkan dividend yield yang lebih tinggi.

Tentu hal tersebut dilakukan selama kinerja perusahaan baik-baik saja, yang ditunjukkan dengan laba yang stabil atau bahkan bertumbuh.

Maka saya tidak begitu khawatir terhadap fluktuasi harga saham yang terjadi setiap harinya.

Ada beberapa alasan yang membuat saya memutuskan untuk menerapkan metode dividend investing. 

Mendapatkan Passive Income Dari Saham

Pertama adalah saya ingin mendapatkan passive income dari saham yang saya milikki, tanpa harus menjual sahamnya. 

Jadi dividen yang diperoleh bisa terus saya belikan saham lagi dan menghasilkan efek bunga berbunga atau compounding interest.

Ketenangan Pikiran (Peace Of Mind)

Kedua yaitu untuk ketenangan pikiran atau peace of mind

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya bahwa saya tidak mau khawatir terhadap fluktuasi harga saham setiap harinya.

Selama perusahaan memiliki kinerja yang baik, konsisten mencetak laba, serta membagikan dividen, ya saya akan beli terus sahamnya.

Mencapai Financial Independence

Terakhir adalah untuk mencapai Financial Independence serta menerapkan teori The 4% Rule.

Yaitu ketika return investasi, dalam hal ini dividen, sudah mampu mengcover pengeluaran tahunan. Supaya bisa hidup dari dividen lah intinya.

Ini target jangka panjangnya.

Risiko Dividend Investing

Setiap instrumen investasi pasti punya resiko, salah satu resiko pada dividend investing adalah bahwa pembayaran dividen oleh perusahaan bukanlah sebuah kewajiban. 

Perusahaan bisa saja mengurangi bahkan tidak membayar dividen sama sekali. Hal ini biasanya diputuskan pada saat RUPST.

Resiko memang tidak bisa dihindari, namun bisa kita kelola. Salah satu caranya adalah dengan melakukan diversifikasi. Kita bisa menyebar dana investasi kita pada beberapa saham.

Jadi ketika ada satu saham yang menurunkan dividennya atau tidak membayar dividen, kita masih bisa dapat dividen dari saham lainnya.

Selain itu, karena saya hanya fokus pada emiten yang sudah rutin membagikan dividen, tidak jarang saya ketinggalan kereta oleh saham-saham yang punya growth cepat karena biasanya perusahaan seperti ini belum membagikan dividen atau kecil dividend yield-nya.

Kesimpulan

Baik, itu dia pembahasan bagaimana cara mendapatkan passive income dari saham dengan metode dividend investing, jika ada pertanyaan silahkan hubungi saya ya. Kita diskusi.