Cara Mengatur Keuangan Dengan Prinsip 80/20

Sebelumnya, saya sudah menulis cara mengelola keuangan dengan prinsip 50/30/20 buat kamu yang baru belajar membuat anggaran bulanan. Pada tulisan ini, saya akan membahas cara mengatur keuangan dengan prinsip 80/20 yang lebih sederhana.

Dua prinsip tersebut bisa kamu gunakan untuk mulai mengatur keuangan pribadi secara efektif, yang pernah saya bahas juga sebelumnya.

Apa itu Prinsip Pareto 80/20?

Aturan 80/20 atau lebih umum dikenal Prinsip Pareto, adalah salah satu strategi yang sering digunakan dalam produktifitas agar kita fokus pada hal-hal esensial dalam menyelesaikan pekerjaan.

Prinsip Pareto 80/20 mengatakan bahwa 80% hasil berasal dari 20% usaha. Mayoritas dari hasil yang didapatkan berasal dari minoritas usaha yang dilakukan.

Berikut adalah contoh bagaimana menerapkan prinsip 80/20 dalam mengatur keuangan kamu.

Prinsip 50/30/20 punya tiga kategori:

  • 50% Kebutuhan
  • 30% Keinginan
  • 20% Tabungan dan Investasi

Prinsip 80/20 hanya dua kategori:

  • 80% Pengeluaran
  • 20% Tabungan dan Investasi

Cara Mengatur Keuangan Dengan Prinsip 80/20

Lalu, bagaimana cara mengatur keuangan dengan prinsip 80/20? Fokus utama dari prinsip ini adalah “memaksa” kamu untuk membayar diri kamu terlebih dahulu.

Jadi, 20% penghasilan langsung kita sisihkan untuk tabungan dan investasi, 80% sisanya bisa kamu gunakan untuk pengeluaran. Termasuk didalamnya kebutuhan bulanan, cicilan, dan keinginan. Simpel kan?

Gaji Per Bulan4,000,000
Pengeluaran3,200,000
Tabungan & Investasi800,000
Cara Mengatur Keuangan dengan Prinsip 80/20

50/30/20 vs 80/20, Lebih Baik Mana?

80/20 merupakan versi sederhana dari prinsip 50/30/20 yang pernah saya tulis sebelumnya. Apalagi kalau kamu tipe orang yang sulit memilah mana keinginan atau kebutuhan.

Kamu tidak perlu repot-repot mencatat transaksi mana yang masuk dalam kategori Keinginan atau Kebutuhan seperti pada prinsip 50/30/20. Kamu hanya perlu menyimpan 20% dari penghasilan, dan menggunakan sisanya untuk semua pengeluaran.

Keduanya menurut saya sama-sama baik, pada 50/30/20 fokusnya adalah belajar membuat anggaran dan disiplin. Sedangkan pada 80/20 fokusnya adalah menyisihkan 20% penghasilan di awal.

Kekurangan Prinsip 80/20

Kesederhanaan prinsip 80/20 ini justru menjadi salah satu kekurangannya juga. Tidak ada batasan jelas pada setiap kategori pengeluaran, ini menurut saya cukup bahaya.

Jika menggunakan contoh diatas, kita memiliki dana sebesar 3,200,000 untuk seluruh pengeluaran. Dikhawatirkan akan terbentuk ilusi bahwa kamu bisa menggunakan seluruhnya untuk Cicilan atau Keinginan. Padahal ada pos Kebutuhan yang perlu kamu sisihkan juga.

Sehingga lupa, bahwa dengan 3,200,000 ini kamu harus bisa hidup sampai penghasilan selanjutnya. Apapun yang terjadi.

Kesimpulan

Prinsip 80/20 harus kamu lihat sebagai standar minimum untuk berinvestasi. Semakin banyak yang bisa kamu sisihkan dari penghasilan tentu semakin baik.

Saat kamu sudah terbiasa menerapkan prinsip 80/20, kamu bisa mulai memperbesar alokasi investasi menjadi 70/30 bahkan 60/40. Seperti yang saya lakukan saat ini, 40% penghasilan langsung saya investasikan.

Perlu diingat bahwa prinsip 80/20 hanyalah sebagai pedoman dasar. Saat menjalaninya, kamu bisa mengubah porsi sesuai tujuan finansial kamu.

By Abdullah Adnan

Seorang pemula di bursa saham. Blog ini adalah jurnal investasi, perjalanan penulis mencapai tujuan keuangan di masa depan.